Sunday, February 8, 2009

FIGHT or FLIGHT

Semua orang punya kebebasan untuk menetukan apa yang mereka inginkan. Dan orang lain tidak berhak untuk merebut hak akan kebebasan itu.

Tapi ....

Salah satu pekerjaan seorang dokter adalah menentukan (hmm...mungkin tepatnya memberikan pilihan yang mau ga mau harus dipilih) apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pasien. Kalau pasien mau sembuh, ya ikuti kata dokter, kalo ga mau sembuh ya terserah (kasarnya gitu....).

Tentunya bagi seorang dokter yang bijak, sebelumnya harus menjelaskan dulu seluruh keuntungan dan kerugian dari pilihan-pilihan yang diberikan, dengan cara bersikap netral, tidak mengintervensi pasien dalam menentukan pilihan, dan tidak menyarankan pilihan yang dapat merugikan pasien baik secara fisik maupun material. Dan memang pada akhirnya pasienlah yang menentukan pilihan yang mereka inginkan.

Tapi terkadang pada kenyataannya pilihan yang diambil pasien tidak seratus persen merupakan pilihan yang benar-benar ingin diambil. Wajar saja, jika kita dihadapkan antara pilihan hidup dan mati, tentu saja kebanyakan orang akan memilih untuk hidup, apapun resikonya, sekecil apapun kemungkinannya dan berapapun biayanya. Keinginan untuk hidup ini mungkin yang selalu menjadi harapan para pasien dan tentu saja para dokter juga mengharapkan kesembuhan mereka (karena itulah pekerjaan dokter). Karena itu pasien terpaksa mengekang haknya untuk memilih secara merdeka demi kelangsungan hidupnya. Memangnya siapa yang memilih sakit ketimbang sehat???tapi ya sebenarnya sakit bukan pilihan sih....(tapi”untuk menjadi sakit” adalah sebuah pilihan.....)

Tapi .....

Bagaimana jika suatu saat kita bertemu dengan seorang pasien yang sudah mengalami sakit parah, yang berdasarkan ilmu kedokteran kemungkinan hidupnya kecil, umurnya diperkirakan tinggal sebentar lagi, tidak mempunyai sanak saudara atau kerabat , tidak mempunyai penghasilan yang cukup dan dengan biaya pengobatan yang sangat mahal.....??? Apa pilihan untuk pasien seperti ini...???? Apa dia bisa memilih untuk tetap sehat..???


Lalu misalnya pasien berkata seperti ini :

”Saya cuma ingin menghabiskan sisa umur saya dengan tenang.......”

Kita sebagai sahabat atau dokter tentu selalu berharap kesembuhan pasien. Tapi apakah kita tetap memaksa agar pasien seperti itu tetap berusaha meneruskan pengobatan yang notabene mahal...??? Dan hanya berbaring di ranjang rumah sakit sampai ajal menjemputnya...??? sambil berkata ”ayo pak...jangan menyerah sama penyakitnya.....”. Apakah ini adil bagi pasien....???? Apakah ini tidak akan menambah beban pasien .....???? Apakah ini yang pasien inginkan...????

Sehebat apapun dokter, dokter juga hanya seorang manusia, manusia yang memiliki batas pengetahuan. Dokter bukanlah Tuhan yang bisa menyembuhkan segala penyakit.

Apakah kita boleh merampas hak pasien yang hanya ingin hidup tenang sampai akhir hayatnya.....

Pasien hanya ingin tenang....

Tidak perlu memikirkan biaya perawatan yang mahal....

Tidak perlu berbaring di rumah sakit setiap hari...

Tidak perlu bergantung pada mesin penyokong....

Tidak perlu takut disuntik tiap hari.....

Tidak perlu minum obat tiap hari....

Hanya ingin tenang....

Mungkin kedenganrannya pesimistik.....

Tapi bagaimana jika suatu saat kita meghadapi situasi seperti ini.....

Apa yang akan kita lakukan ....

Fight....

or...

Flight....

Saturday, December 6, 2008

GIMANA KALO CINTA BAGAI THALASEMIA ……?????

Tentu sebagian dari kita udah sering denger penyakit Thalasemia…..Penyakit yang satu ini merupakan suatu kelainan darah dimana sel darah merah kita (eritrosit) cepet rusak yang disebabkan karena adanya kelainan genetik. Pola penurunan kelainan genetiknya bersifat Autosomal Resesif yang artinya pola pewarisan genetiknya ga geliat laki-laki ato perempuan dan bisa diturunkan dari ibu maupun bapak.

Nah, karena sel darah merah cepet rusak, akibatnya timbullah yang namanya anemia (kurang darah). Dan tentu saja anemia ini juga bisa berpengaruh terhadap aktivitas kita sehari-hari. Kita jadi lesu, cepet ngantuk, mudah lelah, males beraktivitas, dan lain-lain.

Jadi kenapa sel darah merah kita bisa cepet rusak,,,,, karena penyakit thalasemia ini mengganggu struktur sel darah merah, terutama hemoglobin kita, yang dimana kalo pada orang normal, komposisi hemoglobin kita terdiri dari 2 rantai Alfa dan 2 rantai non alfa.

Nah ,,,disinilah letak keajaibannya,,,,,

Jadi dalam satu hemoglobin, terdapat 4 rantai asam amino, yang seperti saya sebutin diatas, yaitu ada 2 rantai alfa dan 2 rantai non alfa. Yang termasuk Rantai non alfa adalah rantai beta, delta, dan gamma. Komposisi pasangan rantai asam amino dalam Hemoglobin ini (di dalam sel darah merah) orang normal adalah 2alfa2beta (96%), 2 alfa2delta (2%), 2 alfa2gamma (2%). Nah, pada penderita thalasemia, terjadi defisit rantai Beta, sehingga otomatis pasangan Alfa-Beta yang mendominasi komposisi rantai asam amino tadi jadi mengalami ketidakseimbangan. Rantai Alfa tadi yang seharusnya berpasangan dengan si Beta kehilangan pasangannya. Sebagai respon dari kehilangan pasangannya tadi, hemoglobin yang mengalami ketidakseimbangan rantai asam amino tersebut mengalami proses denaturasi, degradasi dan pengendapan yang nantinya akan bersama-sama menyebabkan kerusakan membran sel darah merah, sehingga sel darah merah akan mudah rusak dan akhirnya mati.

Lalu hubunganhya dengan Cinta ada dimana….????

Jika dipikir dalam-dalam, sungguh merupakan sebuah proyeksi cinta yang patut untuk direnugkan. Antara rantai Alfa dan Beta jika dalam keadaan berpasangan, mereka saling membentuk keseimbangan sehingga bersama-sama dapat memberikan struktur yag kuat dalam sel darah merah, sehingga dapat tetap hidup. Tetapi jika rantai Alfa kehilangan pasangannya, yaitu Rantai Beta, si rantai Alfa ini tidak mau untuk berganti pasangan, walaupun di dalam lingkungannya masih ada rantai delta maupun Gamma, ia lebih memilih mati dari pada harus berganti pasangan. Sungguh luar biasa……….

Entah ini merupakan proyeksi cinta yang seperti apa ………..

Apakah ini yang disebut cinta sehidup semati….??????

Apakah cinta sepert ini yang disebut cinta ideal…..?????

Tapi, ada satu hal yang juga yang patut untuk dicermati dan ditelaah…..

Apakah mati demi cinta adalah pilihan terbaik....????

Jika kita tengok kembali pada kasus Thalasemia, dengan matinya pasangan Alfa-Beta ini memberikan dampak yang sangat merugikan bagi tubuh penderita. Karena loyalitasnya terhadap Beta, Alfa lebih memilih mati, yang nanti pada akhirnya akan mengorbankan sel darah merah dan akan berdampak negatif pada lingkungan sekitarnya yaitu tubuh manusia.

Jika diibaratkan Alfa dan Beta adalah sepasang kekasih, ,,,

sel-sel darah merah adalah orang-orang terdekat,,,

dan tubuh manusia adalah keluarga,, ,,

Sungguh tulus kesetiaan cinta yang diperlihatkan Alfa kepada Beta, tetapi jika dilihat dampak yang ditimbulkan dengan matinya pasangan ini, tidak hanya diri sendiri, tetapi juga orang-orang terdekat dan keluarga juga akan merasakan dampak negatif atas kehilangan orang yang disayangi. Mati mungkin akan menyelesaikan masalah, tetapi pasti akan meninggalkan luka dan bekas dihati orang-orang tersayang.


Sungguh banyak fisolofi yang terdapat dalam tubuh manusia,,,,

Banyak yang kita dapat pelajari dari sana,,,,,

Luangkanlah waktu sejenal untuk memikirkannya,,,,,,

Monday, November 10, 2008

Bagaimana Obat Herbal Bisa Menyembuhkan Orang????


Tentang kaitan antara berhasilnya pengobatan tradisional yang menggunakan tanaman obat dengan kesembuhan seseorang terdapat beberapa teori, di antaranya :

  1. Sugesti atau autohipnosis

Di dalam teori pengobatan tradisional manusia itu adalah sebagian dari makrokosmos yang untuk mempertahankan fungsi biologisnya sebagai makhluk hidup, konsep keseimbangan harus dipelihara agar tetap sehat. Homeostasis itu dipertahankan oleh sistem persyarafan autonom yang sangat peka terhadap rangsangan bawah sadar. Sakit atau kematian akibat jampi (cult death) dihubungkan dengan menigkatnya tonus parasimpatik. Sebaliknya kesembuhan atau perbaikan penderitaan adalah pengaruh peningkatan tonus simpatik (Lex, 1977). Seorang Batra (Pengobatan tradisional) dengan ramuannya memancing pendekatan pada jiwa penderita dengan terlebih dahulu meyakinkan adanya penyebab supernatural dengan menghubungkan keganjilan-keganjilan tindak laku yang dijalani si penderita sebelum sakit, misalnya menanyakan tempat-tempat yang mungkin telah dilanggar kesuciannya sebagai tempat tenaga gaib itu. Dengan usaha ini rasa bersalah dan ingin memperbaiki kesalahan untuk mencapai kesembuhan dicapai sendiri oleh penderita. Perlunya bantuan medium dukun ditanamkan secara pasti dan bahkan pada kelompok masyarakat yang jauh terasing ada kewajiban moral untuk memberi insentif tetap untuk menjaga agar selalu sehat.


  1. Prinsip homeopati

Dictum dalam homeopati ialah “similia simibulus curentur” yang berarti sesuatu yang serupa menyembuhkan yang sama, dengan pelopornya seorang dokter Jerman yang bernama Samuel Hahneman, lahir tahun 1755. Sebetulnya mengobati penyakit dengansuatu zat yang dapat memberikan gejala yang serupa telah lama berlangsung, yaitu semenjak Hippocrates dan Paracelcus.

Prinsip kedua homeopati ialah jika dosis diberikan berlebihan yang membawa akibat diperberatnya gejala penyakit, akan terjadi suatu perbaikan, apakah dengan cara pengurangan dosis atau tidak. Pada umumnya dosis sangat diencerkan dan dari segi inilah terjadinya sikap skeptis dan tidak percaya orang-orang yang berpengetahuan modern.

  1. Peningkatan daya tahan

Umum dikenal bahwa jamu-jamuan meningkatkan kondisi tubuh dalam arti fungsi secara fisiologis mengatur mesin peralatan tubuh sehari-hari, misalnya merangsang nafsu makan, memperbaiki enzim, memperlancar pengaliran empedu, memperlancar pembuangan kotoran, air seni, dan keringat. Penggunaan jamu pada gadis yang menginjak dewasa dapat mempertahankan turgor kulit, sehingga tidak mudah terbawa oleh umur. Pemuaian jaringan lemak dengan intensifikasi metabolisme akan memperbaiki bentuk badan. Prinsip lancarnya ”pembuangan” digunakan juga dengan obat pencahar dan diuretika di negri Barat sebagai obat pengurus badan. Beberapa bahan tanaman obat akhir-akhir ini ditemukan bukan saja sebagai zat suplementasi, tetapi juga mengandung antiseptik, misalnya daun sirih. Bukan rahasia lagi kebiasaan ibu-ibu untuk mengobati borok anaknya dengan campuran cendawan atau tanah yang ternyata kemudian di antaranya ada jamur pengahsil antibiotika.

  1. Adanya unsur farmakoterapeutika

Dalam tanaman obat sudah pasti ada sesuatu zat yang berkhasiat dan ditemukan oleh para nenk moyang secara trial and error diuji oleh kurun waktu. WHO telah mengadakan inventarisasi di pelbagai negara baik di negara barat maupun timur, termasuk yang menggunakan sistem kedokteran Ayurveda dan Unani, tidak kurang dari 20.000 tanaman obat.

Kita tidak mengetahui berapa jumlah spesies tanaman obat yang sesungguhnya. Diperkirakan sekitar 800.000 jenis. Angiosperma saja antara 20.000 sampai dengan 500.000. Dari jumlah yang besar itu baru hanya sekitar 5% yang telah diteliti (Wagner, 1977), terutama untuk mencari obat kanker, antifertilitas, dan yang berpengaruh terhadap syaraf (Farnsworth, 1977) . (Kapita selekta farmakologi dan obat tradisional, 1993, Angkasa: Bandung, DR.H. Azwar Agoes,)

Dinamika Pengobatan Herbal


Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya untuk makan, tempat berteduh, pakaian, obat, pupuk, parfum, dan bahkan untuk kecantikan dapat diperoleh dari lingkungan. Sehingga kekayaan alam di sekitar manusia sebenarnya sedemikian rupa sangat bermanfaat dan belum sepenuhnya digali, dimanfaatkan, atau bahkan dikembangkan.

Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan ketrampilan yang secara turun temurun telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun Lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang nDalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya (Sukandar E Y, 2006).

Obat herbal telah diterima secara luas di hampir seluruh Negara didunia. Menurut WHO, negara negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat herbal sebagai pelengkap pengobatan primer yang mereka terima. Bahkan diAfrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer (WHO, 2003). Faktor pendorong terjadinya peningkatan penggunaan obat herbal dinegara maju adalah usia harapan hidup yang lebih panjang pada saat prevalensi penyakit kronik meningkat,

adanya kegagalan penggunaan obat modern untuk penyakit tertentu di antaranya kanker serta semakin luas akses informasi mengenai obat herbal di seluruh dunia (Sukandar E

Y, 2006).

WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama

untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (WHO, 2003).

Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman daripada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern.

Tren untuk kembali ke obat-obat alami juga diakui Ir. Yuli Widyastuti dari Balai Penelitian dan pengembangan Tanaman Obat (BPT) Depkes di Tawangmanggu. Menurut beliau, peminat obat dari bahan alami kini sedang booming, karena tren kembali ke alam, obat-obat konvensional mulai resisten, munculnya penyakit-penyakit baru, efek samping obat kimia ada yang merugikan kesehatan.

Obat-obatan yang diproduksi dari sintesa bahan kimia memang manjur mengobati penyakit, namun di sisi lain juga bisa berdampak efek samping negatif. Namun, kini banyak pakar kesehatan luar negeri-berdasarkan penelitian-menyimpulkan bahwa terapi yang efektif dan paling aman untuk jangka panjang adalah yang bersifat alamiah.

Hal inilah yang menggugah kesadaran masyarakat negara maju kembali ke alam. Di Indonesia pun penggunaan obat-obatan tradisional juga tergolong tinggi. Mengutip data dari Departemen Kesehatan, Dirut International Herbal Center, Rusdiyanto, dalam Seminar Nasional Obat Herbal dan Akupunktur di Jakarta, Sabtu (3/7) menyebutkan, 58,6 % dari 53 juta penduduk yang sakit di Indonesia menggunakan obat alam atau berobat di klinik tradisional. Selain penggunaan obat tradisional ditempuh pula pengobatan alternatif seperti akupunktur, akupresur, terapi jus, terapi diet, dan terapi aroma.

Kecenderungan gaya hidup ”Back to Nature” menyebabkan penggunaan obat tradisional, obat herbal, maupun suplemen makanan cenderung meningkat. Semakin banyaknya fasilitas-fasilitas yang mendukung dan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap penggunaan obat herbal, misalnya klinik-klinik herbal dan balai-balai pengobatan herbal juga terbukti meningkatkan angka penggunaan obat-obatan herbal di Indonesia.

Klinik-klinik herbal dan balai-balai pengobatan herbal ini telah secara berhasil melayani kebutuhan pasien untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Misalnya sebagai contoh, tiga klinik herbal dan satu balai bengobatan herbal yang telah dibuka pada April 2001 di Jakarta telah berkembang menjadi 16 klinik herbal dan 48 balai pengobatan herbal pada Juli 2006. Disamping itu pada periode yang sama banyak klinik herbal dan balai pengobatan herbal lain yang dibuka oleh lembaga lain.

Kepercayaan masyarakat terhadap herbal sebagai obat alternatif di luar pengobatan modern memang tak pernah luntur oleh zaman. Kepercayaan terhadap obat herbal sempat surut ketika bermacam obat modern ditemukan, namun gerakan back to nature (kembali ke alam) membuat pamor herbal naik lagi. Prof. Dr. Siddik, S.Apt., mengakui kembalinya tanaman herbal menjadi primadona ketika masyarakat menyadari bahwa hampir tak ada efek samping yang ditimbulkannya. "Konsumsi saja tanaman yang sudah dikenal sebagai tanaman obat. Tak akan ada efek sampingnya," yakin Siddik.

Selain tak ada efek kimianya, lebih banyak lagi orang mengonsumsi herbal dengan alasan menyiasati ekonomi yang lemah. Ketidakkberdayaan ekonomi untuk menjangkau obat-obatan dari apotek membuat banyak orang beralih pada herbal. Namun tanaman obat yang sudah diproduksi secara lebih modern menjadi tidak lagi menjadi terlalu murah. Biaya produksi menyebabkan tanaman alam yang bisa dipetik dari pekarangan sendiri ini dan sudah dikemas menjadi relatif mahal. Kendati demikian masih murah dibanding obat-obatan modern. Dibanding masa lalu ketika tanaman obat belum tersentuh sama sekali dalam kemasan modern, para dokter jarang yang mau merekomendasikannya. Kini banyak dokter yang sudah meresepkan obat dari herbal pada pasiennya.

Kecenderungan untuk kembali ke alam memang sangat menggejala beberapa dekade terakhir ini. Hal tersebut tidak saja berlaku di Indonesia atau negara-negara Asia lainnya, namun juga di negara-negara Eropa dan Amerika. Pengobatan menggunakan obat-obat alam semakin banyak peminatnya. Menurut data yang dikeluarkan oleh Sekretariat CBD (Convention on Biological Diversity) penjualan obat herbal pada tahun 2000 mencapai US$ 60.000 juta (enam puluh ribu juta dolar Amerika), suatu jumlah yang cukup banyak.

Dan sekitar 25% dari pasar obat herbal itu ada di negara-negara maju, yaitu Kanada, Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Eropa. Dokter-dokter di negara-negara tersebut bahkan sudah biasa menuliskan resep obat herbal untuk pasien-pasiennya, dalam hal ini mungkin mereka lebih maju dari pada kita. National Institute of Health, yaitu Departemen Kesehatannya Amerika Serikat, sejak tahun 1995 telah merekomendasikan masuknya materi tentang pengobatan alternatif dan komplementer dalam kurikulum fakultas kedokteran. Dan survey yang dilakukan pada tahun 1998 menunjukkan bahwa 60% sekolah kedokteran di Amerika Serikat telah menawarkan materi tentang pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif dalam kurikulumnya. Jadi sebenarnya, cerita bahwa obat dan pengobatan tradisional bukan merupakan salah satu materi yang dibicarakan dalam kedokteran Barat sudah lama berlalu.

Dijelaskan Direktur Obat Asli Indonesia Badan Pengawas Obat dan Makanan, Ketut Ritiasa, Indonesia termasuk 25 negara yang telah memiliki dan menerapkan kebijakan obat bahan alam. Kebijakan nasional dan kerangka regulasi mencakup pengakuan oleh provider, integrasi ke dalam sistem kesehatan nasional, pengelolaan sumber daya untuk pengembangan obat bahan alam dan pemberdayaan masyarakat.

Saat ini masalah dalam pengembangan obat bahan alam di antaranya kurangnya pembuktian keamanan dan khasiat obat tersebut, sehingga tidak memenuhi kriteria untuk dapat diterima dan digunakan dalam pelayanan kesehatan.